Tanggapi Razia Masker, Aspandi : Banyak Pejabat Memberi Contoh Tidak Baik



Berita Kuningan -
Operasi Yustisi yang dilakukan Aparat Penegak Hukum di Kabupaten Kuningan, dilakukan untuk meningkatkan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan. Hal tersebut mendapat tanggapan dari berbagai pihak, salah satunya Ade Aspandi, Aktifis Sosial.

Aktifis yang pernah tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini menilai, razia yustisi atau razia protokol kesehatan dalam konteks upaya pencegahan penularan virus Covid-19, adalah upaya yang dirasa baik.


Menurut pria yang akrab disapa Aspandi ini, hal tersebut perlu dilakukan untuk menertibkan masyarakat yang masih "bandel" dengan anjuran protokol kesehatan.

Hanya saja, menurutnya, tak cukup hanya dengan melakukan razia. Perlu upaya-upaya penunjang lain karena pandangan masyarakat tarkait virus Covid-19 ini terbagi dalam 3 kacamata.

"Yaitu kacamata politik dengan segala konspirasinya, kacamata kemanusiaan dan kacamata ilmiah," ungkap pria yang juga menjabat sebagai BPD di desanya.

Selain itu, kata Aspandi,  dengan segala berita-berita yang tersebar, banyak masyarakat yang acuh dan mengabaikan, tapi menurutnya itu adalah salah satu ujian untuk pemimpin.

"Kita juga harus tahu bahwa pandemi ini adalah ujian setiap pemimpin, untuk tampil menjadi pemimpin teladan, dan mampu menjadi penenang serta memberikan solusi bagi warganya, agar segala himbauan dapat diterima oleh masyarakat," ungkapnya.

Diharapkan, dengan pemimpin yang menjadi teladan dengan memberi contoh yang baik, masyarakat dapat memandang Covid-19 dalam kacamata kemanusiaan, namun menurutnya, fakta yang terjadi saat ini tidaklah demikian.

Aspandi menilai, Dalam hal penertiban protokol kesehatan saja, masih ambigu karena yang ditertibkan hanya masker saja. Menurutnya, kalau serius ingin menertibkan  jangan setengah-setengah.

Aspandi melanjutkan, pointnya bukan hanya penggunaan masker saja, kata dia, itu hanyalah rangkaian protokol kesehatan untuk pencegahan penularan corona, tapi masih banyak pejabat memberi contoh tidak baik di poin-poin lainnya.

"Protokol kesehatan itu kurang lebihnya adalah pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, tidak berjabat tangan, tidak berkerumun, harusnya semua itu dicontohkan oleh para pejabat." ujarnya.

Aspandi juga menekankan, jika ingin terwujud ketegasan dan keadilan, bahwa kerumunan indikatornya bukan hanya hajatan atau solat jumat saja, karena definisi kerumunan tidak dibatasi dengan kepentingan tertentu.

Berbagai kegiatan yang yang dilakukan oleh pejabat publik, kata Aspandi, masih banyak yang terang-terangan melanggar aturan dan memberi contoh buruk ke masyarakat seperti, berkerumun, berjabat tangan, bahkan kemarin-kemarin ada yang tidak menggunakan masker dan lainnya.

"Kalau yang terjadi sekarang ibarat kita beragama Islam, ada rukun Islam tapi cuma syahadat saja, solat tidak, puasa tidak, zakat tidak, apalagi naik haji," pungkasnya. (AR27/Red)

Posting Komentar

0 Komentar

0 Viewers