Berita Terbaru

Konflik Petani dan Peternak Sapi Palutungan Kian Memanas




Berita Kuningan - Tak hanya berdampak pada warga Kelurahan Windiherang, Warga Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur mengeluhkan pembuangan limbah kotoran sapi yang mencemarkan sumber air bersih warga, dan air untuk lahan pertanian.

Hasil monitoring dan evaluasi, Anggota Legislatif Komisi III DPRD Kuningan, Sri Laelasari bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan di Blok Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur Kuningan, masih ada peternak membuang kotoran sapi ke saluran air.

"Akibat kotoran sapi yang dibuang langsung ke saluran air, menyebabkan saluran air ini yang biasa dipakai warga untuk menyiram lahan pertanian, menjadi berwarna hijau, dan kotor,"ungkap Sri Laelasari yang merupakan Anggota DPRD Fraksi Gerindra-Bintang, Jum'at (4/9/2020).

Sri pun menunjukan lokasi pipa paralon air yang dihancurkan oleh oknum. "Inilah yang menjadikan konflik antara petani dan peternak mencuat,beberapa waktu yang lalu," jelas Sri.

Sri pun menjelaskan kedatangannya adalah bentuk kepedulian terhadap warga untuk menemukan solusi yang terbaik antara peternak, petani dan warga. 

"Saya bersama Dinas LH Kuningan sengaja datang langsung ke lokasi  agar permasalahannya tidak berlarut-larut dan menemukan titik temu solusi yang terbaik," tandas Sri.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Wawan Setiawan, melalui Kasie Pembinaan dan Penegakan Hukum, E Kosasih mendukung apapun solusi terbaik bagi para peternak dan petani tentunya yang baik untuk lingkungan sekitar. 

"Kami mendukung yang terbaik bagi lingkungan hidup dan masyarakat, Kami pun telah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Perikanan untuk masalah limbah kotoran Sapi,"ujar Kosasih.

Sementara itu Ketua Kelompok I Peternak Sapi, Yudi memaparkan pokok permasalahan yang terjadi, Ia menjelaskan kondisi yang terjadi saat ini, yaitu limbah kotoran hewan selain merusak lahan tani juga sudah masuk ke pemukiman warga. 

"Jadi masyarakat sudah mulai merasa tidak nyaman, karena sudah masuk area pemukiman warga," ujarnya.

Yudi sendiri mengatasi kotoran sapi dengan membuat Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) di kandang miliknya. "Untuk saya yang sudah saya lakukan pengolahan limbah yaitu membuat IPAL dengan ukuran 7 meter x 4 meter, disekat dibikin tiga sedangkan untuk kohe utamanya,ditampung tidak dibuang ke sungai,"papar Yudi.

Menyikapi konflik kotoran hewan yang terjadi antara petani dan peternak Palutungan, Kepala Desa Cisantana, Ano Suratno berjanji akam segera menindaklanjuti pemilik kandang sapi yang bermasalah. 

"Untuk penyelesaian sementara ini, saya akan menindaklanjuti pemilik lahan itu, dan melihat kondisi lahan apakah memungkinkan bisa dibangun Ipal Komunal seperti yang ada di Blok III Palutungan,"
papar Ano.

Selanjutnya Ano pun akan membuat saung untuk pengeringan kotoran sapi, agar bisa dibuat menjadi pupuk sehingga selain menjadi solusi, juga bisa menjadi manfaat.

"Saung dan bantuan mesin pengolah pupuk, supaya setelah dikeringkan kotoran tersebut bisa langsung diolah menjadi pupuk kandang agar bernilai ekonomis dan bermanfaat untuk semuanya,"katanya. (AD27/Red)

Tidak ada komentar