Mengenang Hamka; Pahlawan Dengan Banyak Segi

 


Haji Abdul Malik Karim Amarullah atau lebih kenal dengan nama Hamka, dilahirkan di negeri Sungai Batang, di sebuah rumah di pinggir Danau Maninjau di tanah Minangkabau, Sumatera Barat, pada tanggal 17 Februari 1908. Ayahnya bernama Syeikh Abdul Karim bin Amarullah yang dikenal sebagai Haji Rasul ulama pelopor Gerakan Islah di Minangkabau dan Ibunya bernama Shafiyah. Ayahnya tercatat sebagai orang pribumi pertama yang mendapatkan gelar kehormatan doctor honoris causa dari Universitas Al-Azhar Mesir.

Hamka dikenal sebagai sosok ulama yang moderat, memiliki prinsip  yang teguh serta kehidupannya yang sederhana. Memang sosok pahlawan itu dapat hadir sebagai sosok apa saja: seniman, sarjana, politikus hingga prajurit. Dan pada diri Buya Hamka dapat kita jumpai sosok pahlawan juga seorang mubaligh yang mengabdikan dirinya untuk menyebarkan firman Allah berupa tauhid serta melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Beliau memang pribadi yang memiliki banyak segi, piawai di berbagai bidang. Aktivis politik yang juga Sastrawan. Sastrawan sekaligus Ulama. Dalam dirinya, tak syak lagi ilmu dan amal berhasil dipadukan.

Kunci keberhasilan dari sosok Hamka ialah terletak pada kepercayannya pada diri sendiri. Tanpa belajar di pendidikan formal, Hamka berhasil mencapai prestasi dan pencapaian yang tak mudah dijangkau oleh orang lain yang bahkan memiliki latar belakang pendidikan akademik sekalipun. Buya Hamka tentu memiliki kekurangan, tapi walaupun begitu raihan prestasinya tetaplah monumental dan luar biasa.

Seperti kata Ralph Waldo Emerson (1803-1882) yang berkata bahwa “Hakikat dari kepahlawanan adalah kepercayaan kepada diri sendiri”. Hal inilah yang menonjok pada diri Hamka hingga ia berhasil mengatasi berbagai kmelut dalam hidupnya yang pernah ditahan dalam penjara hingga ketika dia mengundurkan diri dari jabatan sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia.

Buya Hamka juga adalah seorang wartawan, yang diawali dengan menjadi penulis untuk harian Pelita Andalas, yang kemudia pada tahun 1926 ia mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah, Hamka juga mendirikan dan memimpin majalah Panji Masyarakat.  Sisi lain dari Buya Hamka yang diungkapkan oleh anaknya, Rusydi Hamka ialah kemahiran Hamka membagi waktu antara menulis, berdakwah, membaca dan menerima banyak tamu yang meminta nasihat kepada Hamka tentang berbagai masalah kehidupan.

Hamka adalah seorang penulis yang menjadikan tulisan sebagai mata rantai dari perjuangan untuk menegakkan syariat Islam dalam sektor budaya dan kesusastraan dimana didalamnya Hamka memasukan unsur-unsur seni, akhlak, budi dan ilmu pengetahuan yang menjadikan Islam sebagai sumbernya. Ketika orang lain bertanya pada Hamka apa yang mendorongnya menjadi penulis yang begitu produktif hingga usia senjanya, Buya Hamka lantas menjawab, “Dasar kepengarangan saya adalah Cinta”.

Dalam ribuan khutbah serta dakwahnya, suatu kali Buya Hamka pernah menerangkan arti cinta bagi dirinya. “Cinta yang tertinggi adalah kepada Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ialah Allah Subhanahu wa ta’ala. Pandanglah alam dengan penuh cinta, dan berjuanglah dengan semangat cinta. Dengan begitu Anda akan berbalas-balasan cinta dengan Dia pemberi cinta”.

Hamka juga adalah seorang pejuang kemerdekaan. Di tanah Minangkabau dia turut mengambil peran menjadi Ketua Front Pertahanan nasioan dalam perjuangan revolusi yang menghimpun kekuatan bersama rakyat melawan NICA. Hamka pula menjadi pembela tragedi “Peristiwa 3 Maret” yang terjadi di Bukittingi yang berhasil ia menangkan. Dia menjadi orang kepercayaan dari Wakil Presiden Mohammad Hatta, walaupun ia tak menempati posisi resmi dan jabatan penting dalam pemerintahan.

Ia memang akhirnya menjadi sosok yang seperti dicita-citakan Ayahnya; menjadi seorang ulama. Tapi Hamka tak sepenuhnya seperti Ayahnya. Seperti yang terlihat dari sikapnya kepada poligami: Hamka adalah termasuk ulama yag tak merestuinya. Kenang-kenangan nya semasa kecil yang hidup ditengah keluarga yang berpoligami dan bercerai rupanya cukup tajam membekas pada jiwanya.

Berangkat dari kenang-kenangan itulah disertai dengan penghayatannya kepada adat Minangkabau, yang menjadi modal utama roman-romannya yang mengoyak emosi dan menguras airmata. Tenggelamnya Kapal van Der Wijk, Di Bawah Lindungan ka’bah, Merantau ke Deli dan kumpulan cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan. Pada akhirnya Hamka bukan hanya sekedar ulama yang bersastra tapi ia adalah ulama dan sastrawan.

Di usia senjanya, Buya menderita berbagai penyakit: darah tinggi dan diabtes. Walaupun sakit, semangat Buya untuk terus bekerja sangatlah tinggi. Bahkan ia sempat berkata bahwa setelah ia sembuh nanti Buya akan bekerja seperti biasa. Baginya tak ada kata istirahat bahkan pensiun selama masih hidup. “Pensiun seorang muslim adalah ketika dia telah mati. Ada hadist Nabi: orang beriman tidak akan berhenti bekerja sebelum pensiun. Pensiunnya adalah di sorga”.

Jasadnya memang telah dikebumikan 39 tahun yang lalu, akan tetapi buah pemikirannya, suri tauladannya, dan buku-bukunya terus hidup hingga kini. Allahummagfirlaha yaa Abuya! Semoga kami dapat meneladani setiap jihadmu.

Dari saya, seorang manusia yang bercita-cita meneruskan jalan juang mu.

Penulis: Fany Meilynda

Mahasantri tingkat akhir, STIS Husnul Khotimah Kuningan)

Referensi :

Pribadi dan Martabat Buya Hamka karya Rusydi Hamka.

Hamka: Ulama Serba Bisa dalam Sejarah Indonesia (Tim Majalah Historia)

Posting Komentar

0 Komentar

0 Viewers