Tak Gengsi, Dosen Jualan Tahu Pakai Honda Jazz


Berita Kuningan - Meski berprofesi sebagai dosen, Neni Nurhayati, SE., M.Si., Ak., CA tak gengsi untuk berjualan tahu. Dosen yang mengajar di Universitas Kuningan (Uniku) ini menggunakan mobil Honda Jazz kesayangannya ia mengangkut tahu mentah kuning dan putih pesanan rekannya di Kampus setiap hari Rabu.

Awalnya, tahun 2018 ia dan suaminya membeli sebuah pabrik tahu yang berlokasi di Kecamatan Nusaherang, untuk berbagi kebahagiaan. Dirinya berbagi tahu untuk rekan seprofesinya di Kampus, tapi kemudian banyak yang memesan tahu bermerk DD tersebut.




"Awalnya saya syukuran, bagi-bagi tahu untuk seluruh rekan Fakultas Ekonomi, tapi akhirnya banyak yang memesan jadi sekalian saya bawa ke Kampus," ujarnya.

Karena takut mengganggu pekerjaan, istri dari seorang anggota polisi ini pun akhirnya memutuskan untuk membawa pesanan hanya hari Rabu saja, hingga setiap hari Rabu ia menyebutnya sebagai 'Hari Tahu'.

"Setiap hari Senin saya menyebarkan pesan siaran _google form_ melalui WhatsApp, jadi nanti yang ingin memesan tinggal mengisi form dan hari Rabu dibawakan sesuai pesanan masing-masing," lanjutnya.

Selain di Kampus, kini pasarnya telah meluas hingga ke rekan-rekannya di beberapa instansi pemerintahan dan sekolah. Setiap hari Rabu Honda Jazz merah kesayangannya mengangkut sekitar 4.000-6.000 potong tahu dan meraup laba bersih sekitar Rp. 700.000,- hingga Rp. 900.000,- satu kali jualan.

Tersedia Paket Hemat (Pahe) putih dan kuning, yakni empat bungkus tahu masing-masing berisi 10 potong tahu yang dijual dengan harga Rp. 20.000,-. Tahu kuning menggunakan kunyit asli dan setiap produknya tidak mengandung bahan pengawet.

Keuntungan tersebut di luar omset penjualan pabrik yang dipasarkan ke wilayah Kuningan, Cirebon dan Majalengka. Untuk pemasaran pabrik setiap harinya menjual sekitar 200-250 papan tahu mentah.

Meski kini wirausaha sudah menjadi gairah bagi Dosen PNS DPK tahun 2015 sekaligus anggota Bhayangkari majalengka ini, dirinya sempat gengsi saat remaja. Ia merasa malu ketika teman-teman sekolahnya tahu orang tuanya berjualan bensin.

"Saat usia SMP-SMA saya sempat gengsi dengan usaha orang tua saya berjualan bensin. Setiap ada teman yang datang, plang yang ada didepan rumah saya sembunyikan," kenangnya.

Namun, setelah kewirausahaan menjadi salah satu mata kuliah yang ia ajarkan, pandangannya tentang wirausaha berbalik 180 derajat, kini dirinya sangat mencintai dunia wirausaha.

"Jualan tahu ini juga sebagai salah satu bentuk praktek kewirausahaan yang saya jalankan, jadi tak hanya berteori," lanjutnya.

Tak hanya sekedar untuk mengejar keuntungan semata, kebahagiaan yang ia dapat dari berjualan tahu ini salah satunya adalah ketika bisa berbagi dengan sesama dari setiap keuntungan yang didapat.

"Kita cari berkahnya, setiap keuntungan yang didapat disisihkan untuk membantu saudara kita yang membutuhkan. Masa Pandemi kemarin juga Alhamdulillah kita bisa berbagi tahu untuk tetangga sekitar," pungkasnya. (AR27/Eca/Red)

Posting Komentar

0 Komentar

0 Viewers