Tak Mampu untuk ke Rumah Sakit, Jani Terpaksa Dirantai


Kuningan, (BK) - Penanganan kasus gangguan jiwa di Indonesia, khususnya di Kabupaten Kuningan masih belum optimal. Kebanyakan dari para penderita skizofrenia tersebut dibiarkan berkeliaran di jalan, di lingkungan masyarakat, bahkan ada yang diikat atau pun dipasung.

Salah Satunya adalah Jani (37), anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Suhada (70) dan Tarsih (60) warga Dusun Puhun RT 05 RW 02 Desa Lengkong Kecamatan Garawangi diikat menggunakan rantai di sebuah gubung di tepi rumahnya.

Jani diduga mengidap gangguan kejiwaan sejak usianya mencapai kepala dua. Padahal semasa masih sehat dulu, Jani merupakan tulang punggung keluarganya yang mengais rejeki dengan membuka usaha warung kopi di daerah Plered, Cirebon.

Jani sudah 17 tahun mengalami Gangguan Jiwa, namun 4 tahun yang lalu mulai diikat menggunakan rantai. Alasan Utama dari pengikatan Jani adalah karena dia sering berontak, serta sering menghancurkan barang bahkan merusak rumah para tetangga juga tembok rumahnya sendiri dengan membenturkan tangan dan kepalanya.

Menurut keterangan Tarsih, ibu kandung Jani menyebutkan bahwa sebelum diikat Jani sering berontak, bahkan Tarsih pun pernah di siram air panas, dipukul pake kayu hingga 2 bulan tak dapat berjalan, serta dilempar pecahan kaca hingga harus mendapatkan jahitan dikepalanya.

Ironisnya, meskipun kondisi Jani sudah mengkhawtirkan namun hingga kini pihak keluarga belum pernah menerima bantuan resmi ataupun perhatian baik dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah. Pernah ada yang datang dari provinsi, namun hingga saat ini belum ada kelanjutan.

“Hanya dari Puskesmas saja dapat kiriman obat selama enam bulan waktu beberapa tahun lalu,” Ucap Tarsih dengan sedih.

Tarsih pun menjelaskan bahwa Jani belum pernah sekali pun dirawat ke Rumah Sakit karena tak memiliki biaya. Kondisi itu memaksa keluarganya hanya bisa pasrah dan berharap atas kesembuhan anaknya.

"Saya minta semoga putra saya bisa sembuh lagi syukur-syukur bisa seperti dulu dan saya pengennya Jani bisa dibawa ke rumah sakit, tapi urusan biaya, saya tidak punya uang," harapnya.

Jika sudah sampai pada kondisi tersebut memang menjadi beban karena berbagai upaya yang akan dilakukan pun harus berbenturan dengan ekonomi. Maka sangat diharapkan adanya bantuan, terutama dari pemerintah selaku pihak yang memiliki kewajiban mengurus warganya.

Sampai sekarang pun pihak keluarga masih tetap peduli dan hanya mampu memperhatikan Jani dengan rutin memberi makan dan minum dua kali sehari sambil berdo'a untuk kesembuhannya. (AR27/Red)

Posting Komentar

0 Komentar

0 Viewers