Kerukunan Antar Umat Beragama di Cigugur Hingga Akhir Hayat



Berita Kuningan-  "Miniatur Indonesia", itulah gambaran Cigugur, sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Kuningan. Sebuah kecamatan yang mengaplikasikan Bhineka Tunggal Ika secara nyata. Masyarakatnya memiliki keyakinan yang beragam mulai dari Islam, Kristen, Katolik, hingga aliran kepercayaan Agama Djawa Sunda (ADS), namun hidup sangat rukun dan damai penuh toleransi.

Tim beritakuningan.com mencoba menggali informasi tersebut lebih dalam. Menguak seperti apa toleransi antar umat beragama di Kecamatan yang memiliki banyak destinasi wisata tersebut.

Tim menemukan banyak hal menakjubkan terkait kisah kerukunan antar umat beragama di Cigugur. Salah satunya adalah tempat pemakaman yang tidak terpisah, semua agama membaur. Kuburan muslim dan katolik berdampingan.

Menyaksikan kuburan berbeda agama berdampingan, seakan menjadi simbol bahwa kerukunan antar umat beragama diantara mereka hingga akhir hayat.

"Sikap toleransi di Cigugur sendiri sangat kental, masyarakat sangat memegang teguh toleransi. Meski berbeda keyakinan, tapi kehidupan sangat harmonis. Contohnya acara Seren Taun yang setiap tahun diagendakan keluarga paseban, masyarakat yang lainnya tak pernah ada yang mengganggu bahkan ikut membantu menyukseskan acara tersebut". ungkap Sekmat Cigugur, Dian Ahmad Nasehudin, mewakili pihak pemerintah kecamatan saat tim beritakuningan.com mengunjungi Kantor Kecamatan, Jumat (24/07/2020).

Menurut informasi, meski mayoritas masyarakat Cigugur beragama Islam, namun aliran kepercayaan ADS juga terasa sangat kental. ADS setiap tahun menggelar perayaan Seren Taun yang terkenal hingga ke mancanegara.

Upacara Seren Taun adalah upacara syukuran masyarakat petani Cigugur Kuningan, yang dilaksanakan pada bulan Rayagung penghujung tahun menurut perhitungan kalender Saka Sunda yang bertempat di Paseban Tri Panca Tunggal selama 7 hari berturut-turut.

Rayagung secara simbolis berarti merayakan Keagungan Tuhan. Rangkaian Upacara Seren Taun ini dimulai dengan ritual _damar sewu_ di malam hari pertama yang dilaksanakan di halaman depan Gedung Paseban Tri Panca Tunggal dan ritual lainnya.

Setiap tahun, Seren Taun dapat dilaksanakan dengan sukses tanpa hambatan berarti. Baik umat Islam, Kristen, Katolik hingga semua agama menghargai dan tak pernah ada yang mengusik apalagi mengganggu bahkan tak sedikit yang membantu.

Hingga hari, Sabtu (25/7/2020), sesuai pemantauan tim, kerukunan antar umat beragama di Kecamatan Cigugur baik-baik saja. Masyarakat terlihat tetap rukun dan harmonis. Hal tersebut juga diaminkan salah seorang warga Cigugur.

"Kita disini beda-beda agama, tapi gak pernah ada masalah. Sampai hari ini baik-baik saja dan tetap hidup harmonis, _silih asah, silih asih, silih asuh_" ungkap Iyah, warga asli keturunan Cigugur.

Iyah juga mengungkapkan bahwa sangat toleransinya warga Cigugur, bila ada salah satu warga yang  meninggal maka tak hanya dari yang seagama, yang berbeda agama juga turut melayat dan membantu.

"Sampai sekarang masih harmonis. Jika ada muslim yang meninggal, non muslim ikut melayat, bahkan kalo tahlil juga warga non muslim juga ikut tetapi di luar, warga muslim pun sebaliknya kalo ada warga non muslin yang meninggal kita ikut melayat," lanjut Iyah.

Potret itulah yang kita jumpai di daerah Cigugur hingga saat ini, dimana sikap toleransi itu diterapkan dengan istilah gotong royong ( _silih asah,silih asuh_) tanpa memandang Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA).

Hingga hari ini masyarakat masih terlihat harmonis. Terkait ramainya berita akan adanya intoleransi dan diskriminasi kelompok minoritas dan kelompok mayoritas terkait pembangunan makam dan tugu (Batu Satangtung). Menurut hasil yang dihimpun dari berbagai sumber ternyata hanyalah masalah administrasi perizinan.

Pihak Pemda Kuningan melalui Satpol PP menyegel dan menghentikan pembangunan karena belum adanya surat Izin Mendirikannya Bangunan (IMB), dan memberi waktu kepada pihak pembangun untuk segera mengurusnya. (IW27/EH16/Red)

Posting Komentar

0 Komentar

0 Viewers