Berita Terbaru

Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN Bantu UMKM Kab. Kuningan Atasi Madu Meledak

BERITA ​KUNINGAN — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan pendampingan teknologi tepat guna (TTG) bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kuningan. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) resmi antara Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN dan Imah Teuweul Indonesia untuk menghadirkan inovasi mesin pengurangan kadar air madu berbasis sistem dehumidifikasi demi menyelesaikan kendala produksi pengerajin madu lokal.

​Masalah kadar air tinggi selama ini menjadi keluhan utama Amaar Thohir, owner Imah Tuwel Indonesia yang mengemas madu dengan brand Makun. Tingginya kandungan air memicu proses fermentasi alami secara cepat yang menghasilkan gas berlebih di dalam kemasan. Kondisi tersebut tak jarang membuat botol madu berbusa, meluap, hingga meledak saat dibuka oleh konsumen.

​"Selama ini kendala terbesar kami adalah kadar air madu yang tinggi. Madu jadi bergas, memicu fermentasi berlebih, dan kadang meledak atau muncurat saat kemasan dibuka. Alhamdulillah, melalui pendampingan dan kemitraan resmi dengan BRIN, meskipun dengan alat yang sederhana dan biaya terjangkau, namun masalah yang kami hadapi bertahun-tahun kini ada solusinya," ujar Amaar Tohir.
Inovasi yang diterapkan berupa alat penurun kadar air madu berbasis sistem dehumidification (penyerap kelembapan). Mesin ini beroperasi pada suhu rendah di bawah 40 derajat Celsius untuk menjaga kualitas nutrisi, keaslian enzim, aroma, serta warna alami madu agar tidak rusak akibat paparan panas berlebih (overheating).

​Melalui metode penyerapan kelembapan udara terkontrol, kadar air dalam cairan madu diekstraksi secara bertahap tanpa merusak struktur senyawa aktif di dalamnya. Hasil pengetesan menunjukkan teknologi ini mampu menurunkan kadar air madu hingga mencapai angka ideal 17,5 persen—memenuhi standar mutu nasional dan internasional.

​Ketua Kelompok Riset Peralatan Produk Pangan BRIN, Moeso Andrianto, S.T., M.Eng., Ph.D., menjelaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya berhenti pada kerjasama riset dan penerapan peralatan ini saja, melainkan berupa pendampingan berkelanjutan.

​"Kerja sama ini tidak berhenti di sini. Pendampingan dari BRIN akan terus berlanjut agar Imah Teuwel Indonesia dan UMKM Kab. kuningan dapat terus berinovasi dan mengembangkan skala usahanya secara konsisten. Ini adalah upaya nyata kami mendorong UMKM naik kelas lewat pemanfaatan teknologi tepat guna, sehingga cita-cita membangun perekonomian masyarakat dapat terwujud," terang Moeso.

​Dengan penurunan kadar air hingga 17,5 persen serta jaminan pendampingan riset jangka panjang, risiko fermentasi liar dan gas bertekanan tinggi pada produk Imas Tuwel Indonesia kini berhasil diatasi sepenuhnya. Saat ini juga sedang melakukan uji coba peralatan lain seperti airasi berbasis fine bubble untuk budidaya ikan dan lainnya yang bertujuan untuk pengembangan dan membuka peluang ekspansi pasar yang lebih luas. (AR27/Red) 

Tidak ada komentar